Minggu, 11 Mei 2014

Potret Amatir - Malang Flower Carnival

Malang Flower Carnival : 27 April 2014 - Ijen Malang
Foto-Foto : Bayu Diktiarsa
Kamera : Sony DSC-W90


Salah Seorang Peserta MFC turun dari Panggung

Di Tengah Animo Penonton

Peragaan Tari-Tarian Belasan Peserta

Museum Angkut : Sarana Edukasi Transportasi

Tampak Depan Museum Angkut

Museum Angkut termasuk objek wisata baru di Kota Batu. Lokasinya berada di Jalan Terusan Sultan Agung No.2, Kota Batu. Museum Angkut ini merupakan tempat wisata edukasi, khususnya edukasi tentang sejarah berbagai angkutan dari masa ke masa, baik di Indonesia maupun di dunia (museumangkut.com). Saat masuk pertama kali, kita akan disajikan sebuah museum alat transportasi dari berbagai zaman, mulai dari yang tradisional hingga yang modern, seperti: delman, sepeda, mobil, motor, kereta, pesawat, dan perahu. 

Suasana di Dalam Museum Angkut

Setelah puas melihat museum angkutan, Anda akan disodori beberapa zona di tempat wisata ini, antara lain: zona Sunda Kelapa dan Batavia, zona Gangster dan Broadway, zona Uni Eropa (terdiri dari negara Italia, Perancis, Jerman, London, dan Las Vegas. Setiap zona memiliki dekorasi yang menyerupai tempat aslinya. 


Salah Satu Zona di Museum Angkut

Bersantap di Rumah Sosis


Rumah Sosis adalah salah satu snack place yang berlokasi di daerah Oro-oro Ombo, Kota Batu, tepatnya berhadapan dengan objek wisata BNS (Batu Night Spectacular). Snack place ini adalah cabang dari Rumah Sosis Bandung. Sesuai dengan namanya, Rumah Sosis menyediakan menu berbagai jenis sosis. Namun, ada juga menu selain sosis, seperti steak, pasta, masakan oriental dan masakan tradisional Indonesia yaitu nasi goreng dan sop buntut. Sedangkan untuk menu minuman juga ada berbagai jenis, seperti milkshake, fresh juice, soft drink, dan squash. Harga yang dibandrol untuk makanan-makanan ini berkisar 15.000-25.000 untuk porsi kecil, dan 30.000-60.000 untuk porsi besar. 

Salah satu Menu di Rumah Sosis

Monumen Simpang Lima Gumul : "Paris di Tanah Jawa"

Sepasang anak kecil berusia 8 dan 5 tahun terlihat sedang membentuk suatu "pose", anak laki-laki yang mengenakan baju berwarna merah dengan corak hitam melingkarkan tangan kanannya di atas bahu anak perempuan berambut hitam panjang di sebelahnya. Gelak tawa muncul sembari sang ayah mengatur posisi sepasang saudara yang tertawa riang tersebut. Tak lama kemudian, sang ayah mundur beberapa langkah dan kemudian memotret kedua anak yang disayanginya dengan kamera slr yang menggantung di lehernya. Dengan beralaskan rumput nan hijau dan latar monumen yang indah, sejenak sang ayah melihat hasil gambar yang berhasil ia bidik. Tak lama berselang simpul senyum sang ayah puas pun terpancar dari keriput wajahnya, kemudian kepada kami ia berkata "lihat, layaknya di Paris," ujar sang ayah tersebut.

Monumen Gumul - Kediri
Berkali-kali sebutan Paris terdengar, sebelum saya dan sekitar 20 teman lainnya yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMANIKA) FISIP UB, melakukan kunjungan kerja ke UB Kampus 4, Kediri, pada Sabtu (10/5/2014). Sekitar pukul 07.15 pagi, saat pembacaan agenda acara yang akan kami lalui, ketua pelaksana kami mengatakan selepas kunjungan dari UB kampus 4, kita akan beristirahat di "Paris" sebelum nantinya kembali ke Malang. Beberapa dari kami yang tak mengerti sempat mempertanyakan kata "Paris" yang dimaksudkan, beberapa yang (mungkin) telah sempat mengunjungi sebelumnya menjawab dengan gelagat yang beragam, ada yang tertawa sambil berkata "Ya, asik ke Paris lagi" ada pula yang berkata "Nanti kita ke Parisnya Jawa lho" dan beragam jawaban lainnya.